Rian Febri Maelan SaputroMasduki Asbari
Kepemimpinan Jawa tidak selalu bersumber pada kekuatan fisik (kasekten), melainkan pada kualitas kepemimpinan universal yang bermutu. Sastra Jawa mencerminkan syarat-syarat kepemimpinan yang universal dan sering kali menjadi kendaraan politik untuk meneguhkan kekuasaan. Pemikiran tradisional Jawa berorientasi pada pusat kekuasaan dan menekankan ekspansi serta dominasi untuk mencapai perdamaian universal. Kepemimpinan Jawa cenderung anti-konflik dan menggunakan perintah halus, meskipun dalam konteks modern sering kali menyembunyikan kekuatan otoriter. Kisah-kisah wayang seperti Petruk Dadi Ratu dan tokoh punakawan seperti Semar, Gareng, Petruk, dan Bagong menggambarkan pembangkangan terhadap pemimpin yang tidak layak dan pentingnya kejujuran serta kesederhanaan. Budaya politik Indonesia, terutama pada masa Orde Baru dan era reformasi, dipengaruhi oleh tradisi bapakisme dan korupsi model Soeharto, yang merusak kepercayaan rakyat terhadap pemerintah. Artikel ini juga membahas karya-karya R. Ng. Ranggawarsita yang memiliki elemen politik dan peran penting punakawan dalam menjalankan kehidupan. Kepemimpinan Jawa yang ideal digambarkan melalui tokoh-tokoh seperti Prabu Abiyasa dan Parikesit yang menyerahkan tahta dengan ikhlas dan selalu memikirkan nasib rakyat. Hubungan antara kehalusan dan kekuasaan sangat jelas dalam budaya Jawa, dan pemimpin yang menguasai Sastra Jendra akan memimpin dengan akal budi dan keadilan. Buku ini memberikan wawasan mendalam tentang falsafah kepemimpinan Jawa sepanjang zaman, dengan menggunakan pendekatan antropologi sastra, budaya, dan politik.
Hadi RiantoYuliananingsih Yuliananingsih