<p>Bali adalah pulau yang kecil yang berada di Indonesia, namun Bali sangat terkenal karena keragaman budaya, tradisi dan alamnya. Alam Bali ini di atur oleh <em>subak</em>, <em>subak</em> adalah organisasi tradisional masyarakat Bali yang mengatur tentang pesawahan di Bali. <em>Subak</em> tidak hanya mengatur persawahan tapi juga mengatur irigasi dan ritual yang menyangkut dengan pertanian. setiap Desa di Bali memiliki <em>subak</em>. Tiap-tiap <em>subak</em> memiliki upacara yang berbeda salah satu diantaranya adalah <em>subak</em> Desa Nyanglan memiliki upacara <em>mapag</em> <em>toya</em> yang dilaksanakan satu tahun sekali dengan mengunakan sarana babi guling dan tiga tahun sekali menggunakan <em>bayang</em>-<em>bayang</em> kerbau untuk di jadikan pekelem. Dalam penelitian ini terdapat tiga rumusan masalah yaitu: (1) bagaimanakah bentuk upacara <em>mapag</em> <em>toya</em> di <em>Pura</em> <em>Bedugul</em> Desa <em>Pakraman</em> Nyanglan, Kecamatan Banjarangkan, Kabupaten Klungkung. (2) apakah fungsi upacara <em>mapag</em> <em>toya</em> di <em>Pura</em> <em>Bedugul</em> Desa <em>Pakraman</em> Nyanglan, Kecamatan Banjarangkan, Kabupaten Klungkung. (3) apakah makna teologis <em>upacara</em> <em>mapag</em> toya di Pura <em>Bedugul</em> Desa <em>Pakraman</em> Nyanglan, Kecamatan Banjarangkan, Kabupaten Klungkung.</p><p>Penelitian ini mengupas membahas rumusan masalah dengan teori religi, teori fungsional struktural dan teori simbol. Metode yang digunakan dengan teknik pengumpulan data Observasi, Wawancara dan Studi didalmnya. Teknik analisis data menggunakan reduksi data, penyajian data, penarikan kesimpulan dan penyajian hasil penelitian yang bercirikan penelitian kualitatif.</p><p> Hasil penelitian ini dapat dikemukakkan sebagai berikut: (1) bentuk upacara mapag toya berbeda dalam setiap tahun dengan tiga tahun sekali, dalam satu tahun sekali menggunakan sarana babi guling dan tiga tahu sekali menggunkan bayang-bayang kerbau. proses pelaksanaan upacara <em>mapag</em> <em>toya</em> dilakukan pada <em>tilem</em> <em>sasih</em> <em>kapat</em>. (2) fungsi yang dimiliki upacara <em>mapag</em> <em>toya</em> adalah fungsi sosial yaitu dapat mempererat persaudaraan, fungsi religi yaitu, dalam setiap pelaksaannya dilakukan ritual untuk menghormati tuhan yang maha esa, fungsi kesuburan yaitu, upacara ini bertujuan untuk memohon air sehingga petani dapat menanam pagi. (3) makna yang dimiliki upacara <em>mapag</em> <em>toya</em> adalah makna teologi, makna teologi dalam upacara ini yaitu memuja tuhan dalam bentuk <em>dewa</em> <em>wisnu</em>. Makna etika dalam upacara ini yaitu dalam setiap persiapan dan kegiatan yang dilakukan <em>karma</em> <em>subak</em> menjaga tingkah lakunya dan pembicaraannya sehinga tidak mengucapkan hal-hal yang buruk. Makna estetika dalam upacara ini yaitu menanata <em>banten</em> agar terlihat indah. Makna pelestarian budaya yaitu upacara ini memiliki makna pelestarian budaya karena melibatkan generasi muda.</p>
Ni Luh MiantariI Wayan MandraI Nyoman Piartha
Febri Vive KanandaRelin D.EI Made Wika