Ekosistem mangrove merupakan salah satu penyangga utama sistem pesisir yang berperan penting dalam melindungi garis pantai dari abrasi, menstabilkan sedimen, mendukung keanekaragaman hayati, dan menyediakan manfaat ekonomi bagi masyarakat. Desa Berahan Kulon, Kecamatan Wedung, Kabupaten Demak, merupakan salah satu kawasan pesisir utara Pulau Jawa yang memiliki potensi ekosistem mangrove cukup signifikan, namun juga menghadapi ancaman degradasi akibat abrasi, limbah domestik, perubahan iklim, dan keterbatasan tata kelola. Penelitian ini merupakan bagian dari program pengabdian masyarakat melalui KKN-PPM UGM Unit Wedung 2025 yang bertujuan untuk mengidentifikasi potensi, kondisi terkini, serta merumuskan arah pengelolaan mangrove secara partisipatif dan berbasis data ilmiah dengan menggunakan metode observasi lapangan, wawancara, analisis data sekunder dari citra satelit, serta telaah literatur terkait dinamika tutupan mangrove. Dalam kegiatan ini, tim KKN-PPM UGM Unit Wedung 2025 melaksanakan program pengabdian masyarakat yang mencakup inventarisasi jenis mangrove, analisis kondisi ekologis, pemetaan vegetasi, penyusunan dokumen pengelolaan, dan edukasi berbasis komunitas. Pendekatan ini diharapkan menghasilkan rekomendasi pengelolaan yang tidak hanya menekankan rehabilitasi ekosistem, tetapi juga memperkuat ketahanan pesisir, kapasitas masyarakat, serta keberlanjutan sosial-ekonomi secara terpadu. Hasil pengamatan ekologis menunjukkan bahwa ekosistem mangrove di Desa Berahan Kulon masih relatif terjaga, dengan keberadaan empat spesies mangrove sejati, yaitu Rhizophora stylosa, Rhizophora mucronata, Avicennia marina, dan Sonneratia alba, yang memiliki distribusi bervariasi antara zona kerapatan tinggi, sedang, dan rendah. Temuan tersebut kemudian dianalisis menggunakan pendekatan SWOT untuk memetakan faktor internal dan eksternal yang memengaruhi pengelolaan mangrove, sehingga dirumuskan strategi pengelolaan yang mencakup rehabilitasi zona kritis dengan teknik penanaman baris ganda, penyusunan Peraturan Desa tentang perlindungan mangrove, penguatan kapasitas teknis masyarakat, pemasangan papan informasi, serta pengintegrasian kawasan pantai, tambak, dan mangrove dalam paket wisata edukasi desa. Dengan demikian, kajian ini menegaskan bahwa pengelolaan mangrove di Desa Berahan Kulon memerlukan pendekatan holistik yang mengintegrasikan aspek ekologis, sosial, dan ekonomi guna menjamin keberlanjutan jangka panjang.
Edy Yusuf AgunggunantoDarwanto Darwanto
Ahmad UsmanNike ArdiansyahSyamsuddin SyamsuddinHaeril Haeril
Ritwan Agus PrasetyoYogi Aldias Zakariyah