Studi ini dilatarbelakangi oleh temuan awal survei kepuasan masyarakat yang mengindikasikan rendahnya efektivitas pelayanan sebagai isu krusial di Pelayanan Terpadu Satu Pintu (PTSP) Kantor Kementerian Agama Kota Bengkulu, yang masih mengandalkan sistem tatap muka dengan ruang tunggu dan fasilitas khusus yang minim. Studi ini menggunakan metodologi pendekatan kualitatif dengan elemen deskriptif analitis dimana data primer diperoleh dari hasil survey, observasi partisipan, dokumen dan arsip. Data sekunder diperoleh dari peraturan perundangan-undangan, artikel, jurnal, buku dan laporan yang relevan dengan PTSP. Hasilnya menunjukkan bahwa meskipun kinerja petugas sangat baik (IKM skor 87,50), fasilitas (skor 68,33), proses (skor 70,20), dan lingkungan informasi (skor 72,00) masih rendah. Pembahasan menguatkan bahwa kondisi fisik yang tidak memadai dikarenakan pengalokasian dana yang tidak optimal yang disebabkan kurangnya prioritas kebijakan yang mendukung infrastruktur. Kesimpulan menegaskan perlunya transformasi signifikan karena kebijakan yang ada belum memadai. Oleh karena itu, direkomendasikan revitalisasi dengan digitalisasi penuh PTSP sebagai alternatif kebijakan terbaik, dengan rekomendasi kepada Kementerian Agama RI untuk membuat regulasi program percepatan revitalisasi dan digitalisasi penuh dengan berkomitmen melakukan pengalokasian dana yang memadai.
Pratia Anggraini WahapSri Yulianty MozinYakop Noho Nani
Wahyu Khoirul MustofaElfridawati Mai DhuhaniDinar Riaddin
Tuti AlfianiArif Rachman PutraAgus Selamet Nugroho