Strategi merupakan suatu proses untuk menentukan sasaran dan tujuan dari suatu organisasi serta tindakan yang diperlukan untuk mencapai masa depan dengan menggunakan alokasi sumber-sumber daya yang perlukan. Strategi pemberdayaan yang diterapkan Dinas Koperasi Usaha Mikro Kecil dan Menengah di Kota Medan masih kurang efektif, terutama dalam aspek pelatihan berbasis digital, bantuan peralatan produksi yang memadai, dan akses ke pasar digital. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji strategi Dinas Koperasi Usaha Kecil dan Menengah dalam pemberdayaan usaha mikro berbasis digital (Go Digital) di Kota Medan. Latar belakang penelitian ini berawal dari fenomena kemiskinan yang masih menjadi masalah besar di Indonesia. Pemberdayaan masyarakat, termasuk usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), dianggap sebagai solusi untuk mengatasi masalah kemiskinan ini. UMKM memiliki peran penting dalam pembangunan ekonomi, terutama di masa pandemi COVID-19, di mana banyak UMKM terdampak secara negative. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif dengan pendekatan kualitatif. Teknik pengumpulan data dilakukan dengan cara wawancara, observasi, dokumentasi, dan studi kepustakaan yang berkaitan dengan strategi Dinas Koperasi Usaha Kecil dan Menengah Dalam pemberdayaan Pelaku Usaha Mikro Berbasis Go Digital di Kota Medan. Data yang diperoleh dilakukan dengan di analisis secara kualitatif dengan mengecek keabsahan data menggunakan teknik triangulasi sumber dan triangulasi teknik/metode. Penelitian ini menggunakan teori Friedmann tentang tiga dimensi pemberdayaan: menciptakan iklim atau suasana (enabling), memperkuat potensi (empowering), dan melindungi pemberdayaan (protecting). Melalui penelitian ini diketahui bahwa pada dimensi enabling Pada Dinas UMKM melakukan pelatihan untuk meningkatkan pemahaman pelaku usaha mikro berbasis digital, namun pelatihan ini tidak dilakukan secara rutin dan kurangnya monitoring lanjutan. Dimensi empowering, Dinas UMKM memberikan bantuan peralatan produksi, namun peralatan yang diberikan masih versi lama dan tidak memadai untuk memenuhi kebutuhan produksi. Pembukaan akses terhadap peluang pasar melalui pameran dan e-commerce juga masih terbatas dan tidak merata di kalangan pelaku UMKM. Pada dimensi protecting, ditemukan bahwa belum ada Standar Operasional Prosedur (SOP) yang jelas dalam program pemberdayaan seperti SAKA SANWIRA, sehingga terjadi ketimpangan dalam partisipasi pelaku UMKM.Penelitian ini menyimpulkan bahwa perlu adanya peningkatan strategi pemberdayaan, seperti pelatihan berbasis digital yang rutin dan terstruktur, bantuan peralatan produksi yang modern dan memadai, serta akses pasar yang lebih merata melalui e-commerce dan pameran. Hal ini penting untuk meningkatkan daya saing dan kemandirian UMKM di Kota Medan.
Mutia DwiyantiFebruati Trimurni
Isnaeni Farismah AgustinMuhammad Fadil
Putri Hertin Andika PardedeFebruati Trimurni
Andri Herijanto EffendiLaili HurriatiAhmad Suhendri
Haris Ahmad RizalMaulana RifaiGungun Gumilar