Ahmad MuchdorIffan Ahmad Gufron
Abstrak: Pendikotomian ilmu pengetahuan di kalangan agamawan terjadi di sebabkan oleh banyak hal, beberapa di antaranya yaitu kolonialisme dan imperialisme Barat. Jauh sebelum itu, evolusi gagasan ilmiah dunia Barat pada abad ke-16 dan ke-17 Masehi juga menjadi pemicu konflik antara sains dan agama. Abad ini, yang dikenal sebagai Renaisans, merupakan masa kebangkitan ide-ide yang tidak terikat oleh dogma agama, dan merupakan masa transisi di mana rasionalisme dan empirisme menjadi tren utama dalam sains. Sementara itu, dunia Timur (Islam) juga mulai terpuruk dan mulai belajar serta beradaptasi dengan Eropa yang saat itu dianggap berkembang pesat dalam hal ilmu pengetahuan dan teknologi. Dikotomi ilmu pengetahuan dan agama juga disebabkan oleh umat Islam yang mengabaikan atau meninggalkan sains dan teknologi, karena ulama tarekat dan ulama fiqih sangat berpengaruh di kalangan umat Islam pada saat itu. Kedua kelompok tersebut melestarikan doktrin pemahaman tentang taqlid, serta membatasi kajian-kajian agama hanya terbatas pada tafsir, fiqih, dan tauhid. Selain itu, para ulama juga tidak terlalu tertarik pada penyelidikan dan penelitian obyektif terhadap fenomena alam atau keberadaan manusia, dan bahkan ada yang mengharamkannya. Perspektif yang dikotomik ini berdampak pada sistem pendidikan di Indonesia dengan masih terlihatnya perbedaan antara pesantren, madrasah, dan lembaga pendidikan berbasis sekolah. Kata Kunci: Dikotomi, agamawan, doktrin
Syaifullah SyaifullahSukandi Sukandi
Afifuddin Ahmad RobbaniRatu Vuna RohmatikaM. Kholis Amrullah
Ahmad Riva Al FaruqiAnna RopitasariLutfi