Abdi Guna SitepuCica Yola Br Sagala
Bangunan Gereja Inkulturatif Santo Fransiskus Asisi Berastagi tidak terlepas dari makna arsitektur dan ornamennya yang merujuk kepada bangunan rumah adat Karo yang sarat akan makna. Oleh karena itu melalui artikel ini hendak dibahas bagaimana makna bangunan gereja inkulturatif Santo Fransiskus Asisi Berastagi serta dampaknya terhadap perkembangan Persekutuan umat. Metode Penelitian yang digunakan adalah metode penelitian kualitatif. Teknik pengumpulan data yang dilakukan melalui observasi, wawancara dan dokumentasi. Data yang telah diperoleh selanjutnya akan dianalisis dengan model Miles dan Huberman melalui tahapan reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa gereja inkulturatif Santo Fransiskus Asisi Berastagi melambangkan persekutuan dan kekeluargaan sebagaimana rumah adat Karo yang biasanya dihuni oleh delapan sampai duabelas kepala keluarga. Kehidupan setiap keluarga penghuni rumah diatur menurut budaya dan kebiasaan yang berlaku bagi masyarakat Karo. Dengan adanya bangunan gereja ini, persekutuan umat juga semakin baik. Hal ini terlihat jelas melalui kehadiran umat dalam perayaan Ekaristi dan perayaan-perayaan lain yang sangat tinggi di gereja. Selain itu, persekutuan umat juga terlihat baik lewat kegiatan-kegiatan di luar gereja baik di stasi maupun di lingkungan.
Abdi Guna SitepuCica Yola Br Sagala
Marta SimanjuntakYunita Vebry Yanti Samosir