<p>Novel <em>Maryam</em> memperkenalkan Maryam sebagai perempuan Ahmadiyah, ia terusir dari rumah dan kampungnya sendiri di Lombok. Kerusuhan-kerusuhan tersebut terjadi diakibatkan oleh tidak terimanya kaum Islam dominan terhadap ajaran Ahmadiyah yang dianggap sesat. Penempatan posisi-posisi tertentu aliran Islam di Indonesia ini juga bisa dikatakan bahwa menciptakan kelas dalam tatanan sosial-agama di Indonesia. Aliran Islam yang didukung pemerintah menempati posisi dominan dan yang lain subordinat. Penelitian ini ingin menjelaskan representasi perempuan subaltern dalam Novel <em>Maryam</em>, serta menjelaskan cara perempuan tersebut<em> </em>memberikan suaranya, dan meninjau lebih jauh alasan mengenai suara perempuan tersebut dinarasikan<em> </em>tidak didengar. Hasil penelitian ini, peneliti menemukan bahwa latar belakang pendidikan <em>subaltern </em>mempengaruhi cara <em>subaltern</em> menyuarakan dirinya. Pemerintah (pemegang kekuasaan serta wacana dominan) membutuhkan pembiaran serta perampasan hak-hak perempuan dan laki-laki <em>subaltern</em> sebagai cara melanggengkan posisi kekuasannya.</p>
Fabiola Agusta Wassy Kumaniren
Deswita Kemala SariNurizzati Nurizzati