JOURNAL ARTICLE

Makna Simbol-simbol Uparengga pada Upacara Mekala-kalaan dalam Perkawinan Umat Hindu Etnis Bali

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengungkap makna yang terkandung pada simbol-simbol uparengga pada upacara makala-kalan dalam perkawinan umat Hindu etnis Bali sehingga semua umat Hindu dapat memahami makna sarana upakara pada upacara mekala-kalan dan selanjutnya umat memiliki keyakinan terhadap proses upacara mekala-kalan untuk membentuk rumah tangga yang sukhinah. Adapun pertanyaan yang ingin dijawab pada penelitian ini adalah “Apakah Makna Simbol-simbol Uparengga pada Upacara Mekala-kalan dalam Perkawinan Umat Hindu etnis Bali?”. Penelitian ini adalah penelitian kualitatif.Hasil penelitian menunjukkan bahwa: a) uparengga yang digunakan dalam upacara makala-kalan antara lain: (1) Sanggah Surya, (2) tetimpug, (3) tikeh dadakan, (4) benang putih, (5) tegen-tegenan, (6) suhun-suhunan, (7) sapu lidi 3 katih (batang), (8) sambuk (serabut) kupakan (dibuka), dan (9) dagangan; dan b) makna yang terkandung dalam simbol-simbol uparengga tersebut antara lain: (1) Sanggah Surya merupakan simbol (nyasa) sthana manifestasi Sang Hyang Widhi (Tuhan), dalam hal ini adalah merupakan sthananya Dewa Surya, untuk memberikan pencerahan dan kehidupan kepada kedua mempelai, (2) Tetimpug memiliki makna sebagai alat komunikasi secara niskala (alam gaib) kepada Bhūta Kala dan secara sakala (alam nyata) kepada umat sekitar bahwa upacara makala-kalaan atau upacara perkawinan segera dimulai, (3) Tikeh dadakan (tikar kecil), memiliki makna kesucian prakrti sebagai alas untuk Purusa melakukan aktivitas, (4) Benang Putih sebagai simbol pembatas waktu dan jarak; (5) Tegen-Tegenan merupakan simbol dari pengambil alihan tanggung jawab yang bersifat sekala-niskala, (6) Suhun-Suhunan adalah simbol keinginan untuk mendirikan rumah tangga yang sukhinah dengan memantapkan keinginan kedua mempelai, (7) Sapu Lidi 3 katih (batang) memiliki makna kerja keras dan makna lahir, hidup dan mati, (8) Sambuk (serabut) kupakan (dibuka) mengandung makna penyatuan keluarga untuk membentuk rumah tangga yang suhkinah dan setiap rumah tangga akan mengalami masalah, oleh karena itu harus dipecahkan dengan akal sehat, dan (9) dagangan mengandung makna adanya masalah yang harus didiskusikan atau disepakati sebelum mengambil suatu keputusan.

Keywords:
Art Humanities

Metrics

1
Cited By
0.00
FWCI (Field Weighted Citation Impact)
4
Refs
0.35
Citation Normalized Percentile
Is in top 1%
Is in top 10%

Citation History

Topics

Cultural and Artistic Studies
Social Sciences →  Social Sciences →  Cultural Studies
Cultural and Religious Practices in Indonesia
Social Sciences →  Social Sciences →  Cultural Studies
Asian Studies and History
Social Sciences →  Social Sciences →  Sociology and Political Science

Related Documents

JOURNAL ARTICLE

KEBERADAAN SIMBOL DALAM PEMUJAAN UMAT HINDU DI BALI PERSPEKTIF TEOLOGI HINDU

I Ketut Manik Jaya

Journal:   Sphatika Jurnal Teologi Year: 2020 Vol: 11 (2)Pages: 180-192
JOURNAL ARTICLE

MAKNA DAN SIMBOL DALAM UPACARA ADAT PERKAWINAN SUNDA DI KABUPATEN BANDUNG

Enden Irma Rachmawaty

Journal:   Patanjala Jurnal Penelitian Sejarah dan Budaya Year: 2011 Vol: 3 (2)Pages: 245-245
JOURNAL ARTICLE

Makna simbol Maarak Anak dalam Upacara Perkawinan di Nagari Tabek Patah

Maharani DaswanAdri Febrianto

Journal:   Culture & Society Journal Of Anthropological Research Year: 2025 Vol: 7 (2)Pages: 84-96
JOURNAL ARTICLE

Makna Simbol Gelar Raja Dalam Masyarakat Adat Bali

Sangayu Ketut Laksemi Nilotama

Journal:   ITB Journal of Visual Art and Design Year: 2009 Vol: 3 (1)Pages: 43-56
JOURNAL ARTICLE

PEMANFAATAN SIMBOL SUCI HINDU DALAM INDUSTRI PARIWISATA BALI

I Gusti Ketut Widana

Journal:   Dharmasmrti Jurnal Ilmu Agama dan Kebudayaan Year: 2017 Vol: 17 (1)Pages: 102-110
© 2026 ScienceGate Book Chapters — All rights reserved.