Mohammed Abullais Shamsuddin Mohammed Yaqub
Pandangan mengenai hubungan Islam dan kebangsaan mempunyai akar sejarah yang diawali oleh polemik yang terjadi antara Soekarno dan pengikutnya dengan A. Hasan Bangil dan Natsir. Polemik itu merespon rumusan ideologi perjuangan kemerdekaan bangsa untuk dapat menyatukan seluruh kekuatan, agar dapat mengusir penjajah dan dapat memerdekakan diri Bangsa. Perspektif holistic itulah yang selayaknya dikembangkan, karena akan menghasilkan kearifan intelektual dan optimisme muslim. Sebaiknya bila varian nasionalisme muslim dilihat dalam perspektif fragmentatif dan partikularistik serta egoisme aliran (mazhab), akan menimbulkan ketersempitan ruang gerak intelektual dan strategi perjuangan, bahkan salah-salah dapat menghasilkan harakiri dan radikalisme yang tak berujung pangkal.