ABSTRAK Vann Nugrahwan Toidje. Stambuk B 501 11 058. Program Studi Ilmu Komunikasi. Skripsi “Makna Pesan Nonverbal Dalam Upacara Adat Perkawinan Suku Pamona”. Di bawah bimbingan Muhammad Marzuki selaku konsultan I dan Edwan selaku konsultan II. Pada penelitian ini, peneliti memilih makna pesan non verbal dalam upacara adat perkawinan suku pamona. Dalam adat perkawinan suku pamona terdapat simbol dan makna. Simbol dan makna ini terdiri dari pesan kinesik, paralinguistik, artifaktual dan proksemik. Berkaitan dengan hal tersebut maka peneliti ingin lebih mengetahui simbol dan makna yang terdapat pada upacara adat perkawinan suku pamona yang ada pada rumusan masalah. Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah eksploratif. Sedangkan dasar penelitian adalah studi kasus, yaitu penelitian yang memberikan gambaran secara mendetail tentang latar belakang sifat-sifat, serta karakter-karakter yang khas dari kasus, ataupun status dari individu maupun kelompok. Penelitian ini dilaksanakan di desa Tindoli Kec. Pamona Tenggara, Kab. Poso. Informan dalam penelitian ini berjumlah 2 (dua) orang. Alat pengumpul data menggunakan observasi dan wawancara mendalam (depth interview). Hasil penelitian menunjukan bahwa dalam upacara adat perkawinan suku pamona terdapat simbol dan makna yang terdiri dari Kinesik : tarian mokanta yaitu pesan facial berupa senyuman yang keluar dari raut wajah penari mokanta yang dimaknai sebagai bentuk kesenangan dan kegembiraan . Paralinguistik : meora (berteriak) yang di maknai sebagai bentuk kegembiraan. Artifaktual : Baju banjara berwarna hitam dengan sula ngkabaja melambangkan kewibawaan, keagungan atau keindahan. Dengan ornamen kalung melambangkan perasaan kasih, ornamen kemudi melambangkan pengemudi dalam rumah tangga, ornamen bentuk pinang melambangkan peminangan dan kesetian terhadap janji perkawinan. Samlempa (selempang) melambangkan penghangat dalam kehidupan keluarga. Siga melambangkan gagah dan berwibawah. Guma melambangkan keberanian. Busana adat perempuan yaitu karaba ndahape yang berhiaskan sula ngkabaja dengan motif flora melambangkan keanggunan, keindahan, kemolekan, kesejukan, dan keserasian. Begitu juga dengan topi ndarea (rok yang berlipat) dan topi ndabolu (rok yang bersusun) juga memiliki makna yang sama dengan karaba ndahape. Tolo bingka (tukar bakul) yang dimana di dalam bakul tedapat buah pinang melambangkan jantung manusia, buah sirih melambangkan daging manusia, daun sirih melambangkan kulit manusia, kapur sirih melambangkan tulang manusia, tembakau melambangkan rambut manusia, dan sepotong kain hitam perlambang kewibawaan bagi masyarakat Pamona. Proksemik yaitu pengaturan jarak dan ruang dalam tarian mokanta, dalam hasil penelitian tidak terdapat makna apapun mengenai pengaturan jarak antara kedua penari mokanta. Kata Kunci : Simbol, Makna Pesan, Upacara Adat Perkawinan
Dandi GolontaloAnwar EfendiAde Nurul Izatti G YotolembahSuminto A. SayutiHamam SupriyadiAri Kusmiatun
Ursula Dwi OktavianiAndri AndriBenediktus Ege